Main Content RSS FeedRecent Articles

Operasional Kongkrit »

Anak usia sekolah oleh Piaget dikategorikan pada stadium operasional kongkrit (7-11 tahun). Stadium operasional kongkrit dapat digambarkan sebagai menjadinya positif ciri-ciri yang negatif pada stadium berpikir pra operasional. Cara berpikir anak yang operasional kongkrit kurang egosentris. Di tandai oleh desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu untuk memperhatikan lebih dari satu dimensi-dimensi ini satu sama lain (hal ini dapat dilihat dari kemampuan anak dalam stadium ini juga mengadakan konservasi). Anak sekarang juga memperhatikan aspek dinamisnya dalam perubahan situasi. Akhirnya ia juga sudah mampu untuk mengerti operasi logisnya reversibilitas (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).

child face Monks, Knoers dan Haditono (1992) mengatakan bahwa ada juga “kekurangannya” dalam cara berpikir yang operasional kongkrit. Hal ini sebelumnya sudah secara implisit ditunjukkan oleh istilah operasional kongkrit. Anak mampu untuk melakukan aktivitas logis tertentu (operasi) tetapi hanya dalam situasi yang kongkrit. Dengan kata lain bila anak dihadapkan dengan suatu masalah (misalnya masalah klasikasi) secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan kongkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.

Tetapi hal ini dapat dijelaskan bahwa tahun-tahun penghidupan pertama dan tahun-tahun sekolah pertama merupakan mata rantai yang penting dalam perkembangan inteligensi. Selanjutnya analisa semacam ini menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan pada periode ini justru sangat penting dan bahkan dapat terjadi kerusakan yang berat bila anak tidak memperoleh kesempatan perkembangan yang optimal. Sebaliknya hal ini tidak berarti bahwa perkembangan intelektual atau kognisi pada usia sekitar 12 tahun secara garis besar telah selesai dan hampir tidak dapat diubah lagi. (Monks, Knoers dan Haditono, 1992)

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Haditono di Indonesia ditemukan bahwa cara orang tua mendidik anak menyumbang pembentukkan motif prestasi anak dalam hubungan dengan tiga standar keunggulan tersebut. Ia menemukan bahwa stimulasi dari ibulah (kurang dari fihak ayah) yang diduga lebih berperan dalam pembentukkkan motif belajar ini.Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang membutuhkan untuk menggunakan pengertian.Psikolog Swiss yaitu Piaget telah banyak mempengaruhi psikologi perkembangan dalam hal perkembangan kognisi. Dia telah memberikan banyak pendapat serta dorongan dalam hal ini (bandingkan untuk berikutnya Ginsburg dan Oppper, 1969) (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).

parentwellbeing Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk adaptasi dan kecenderungan untuk organisasi. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecenderungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungan guna menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Suatu contoh yang sederhana dalam bidang biologis adalah makan. Bila orang maan sesuatu maka pencernaan makanannnya tidak perlu berubah. Apa yang berubah adalah makanannya yaitu adalah faktor lingkungan (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).

Bagi situasi pelajaran prinsip asimilasi merupakan hal yang sangat penting. Menurut Piaget maka setiap anak selalu ada dalam salh satu stadium perkembangan. Stadium ini sebagian besar menentukan untuk sebagian besar cara anak untuk menginterpretasi suatu tugas verbal misalnya : anak umur 4 tahun dan umur 10 tahun dapat diberikan suatu tugas verbal yang identik, tetapi harus disadari bahwa anak hanya akan mengerti tugas tadi sepanjang stuktur kognitif, yaitu stadium perkembangan kognitifnya memungkinkan untuk hal itu. Anak mengasimilasi tugas tadi dengan struktur kognitifnya: ia mengerti tugasnya sepanjang ia mampu untuk mengertinya (Monks, Knoers dan Haditono, 1992)

Menurut Monks, Knoers dan Haditono (1992)Akomodasi adalah kecenderungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri dengan keliling. Suatu contoh dalam bidang biologi dapat dikemukakan lagi mengenai makanan. Bila organisme terpaksa untuk makan makanan yang asing, maka sistem fisiologisnya seringkali harus menyesuaikan diri dengan faktor lingkungan yang berubah itu. Juga dalam situasi sekolah akomodsi memegang peranan penting; anak harus bersedia untuk selalu memperoleh pengetahuan baru guna dapat mengatasi masalah-masalah baru

Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren. Kecenderungan ini juga dapat ditemukan dalam bidang biologis dan psikologis. Contoh yang paling mudah dalam bidang biologis adalah berfungsinya sistem fisiologis sendiri sebagai kesatuan yang terintegrasi. Bila ada gangguan dalam integrasinya hal itu berarti penyakit.Hubungan antara adaptasi dan organisasi juga dua proses ini bersifat komplementer. Bila suatu organisme mengadakan organisme aktivitasnya, maka ia mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada pada situasi baru (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).

Secara empiris Cravioto dan kawan-kawan (1972) di Meksiko, Christiansen dan kawaan-kawan (1974) di Kolumbia, Klein dan kawan-kawan (1974) di Guatemala, Grantham-McGregor dan kawan-kawan (1979) di India Barat, Chavez dan Martinez (1982) di meksiko, Landers (1983) di India Barat serta Simpson (1984) di Costa Rica mendapatkan bahwa keadaan gizi atau pertumbuhan anak memberikan  kontribusi independen terhadap tingkat perkembangan secara umum. Setidak-tidaknya, temuan empiris tersebut di atas dapat di urai menjadi 2 jalur penjelasan, ialah pertama hipotesis jumlah sel/ukuran sel (cell number/cell size hypothesis), dan yang kedua Teori Isolasi Fungsional (,functional isolation theory) (Satoto, 1990).

Chavesz dan Martinez (1981) menyatakan bahwa sebenarnya pemenuhan energi dan zat-zat gizi esensial untuk otak mendapat prioritas yang sangat tinggi, dibandingkan dengan organ-organ tubuh lain, sehingga sampai dengan terjadinya pengosongan cadangan zat-zat gizi tersebut artinya keadaan gizi kurang yang sangat parah, anatomi dan faal otak tidak atau belum terganggu, sepanjang keseluruhan fase-fase pertumbuhan otak (Satoto, 1990).

Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan hasil interaksi antara pematangan organisme dan pengaruh lingkungan. Dalam hal ini, organisme dipandang aktif mengadakan hubungan dengan lingkungan yang berupa proses interaksis yang dinamis (Gunarsa, 1990).

Menurut Gunarsa (1990) proses kognisi merupakan fungsi mental yang berhubungan dengan mengetahui yang meliputi aspek persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran dan pemecahan persoalan. Karena bahasa merupakan perwujudan fungsi-fungsi kognitif, maka dalam psikologi kognitif, bahasa menjadi salah satu objek materialnya.

Piaget mengemukakan pula bahwa setiap organisme yang mau mengadakan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungannnya, harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium) yaitu antara aktivitas organisme terhadap lingkungan dan antara lingkungan terhadap organisme. Agar terjadi ekuilibrasi antara dirinya dengan lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sama dan komplementer (Gunarsa, 1990).

Ekuilibrasi terjadi dalam perkembangan dan mempunyai dasar biologis untuk penyesuaian diri, serta menjadi dasar bagi perkembangan kognitif. Dalam keadaan sebenarnya ekuilibrasi ini praktis tidak pernah tercapai dan perkembangan kognitif juga tidak akan berhenti (Gunarsa, 1990).

Hetherington dan Parke (1986) mengatakan bahwa faktor-faktor biologik, lingkungan, pengalaman, sosial, emosi, dan motivasi berperan dalam perkembangan kognitif.

Makanan Biji-Utuh: Bergizi dan Rendah Lemak »

Apakah anda sedang mencari makanan bergizi dan berkadar lemak rendah? Makanan biji-utuh (whole grain foods) merupakan pilihan terbaik.

Apakah anda akan mengkonsumsi makanan biji-utuh lebih banyak jika makanan itu membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan kanker? Tentu saja, bukan?.

Mary L. Meck Higgins, seorang professor di jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen, fakultas ekologi manusia, universitas Kansas (K-State Unibversity) menjelaskan dengan gamblang manfaat makanan biji-utuh. Berikut ini petikannya:

What Are Whole Grains?

Whole grain foods contain all three parts of the grain: the bran, the endosperm and germ.

• The outer bran layer is full of fiber, B vitamins, 50 to 80 percent of the grain’s minerals and other health-promoting plant substances called phytochemicals.

• The large endosperm portion is full of complex carbohydrates, protein, and smaller amounts of B vitamins.

• The third part is the germ, which is full of B vitamins, vitamin E, trace minerals, and healthful unsaturated fats, phytochemicals and antioxidants.

 

If all three parts of the grain are present in processed foods, they are considered whole grain. By comparison, refined grain foods contain only the endosperm. When the germ and bran portions are removed during milling, the nutrient content is reduced by 25 to 90 percent. Most refined grain foods are enriched with some of the nutrients lost in milling.

Phrases That Do Not Mean Whole Grain

People who want to start eating more whole grain foods are often unsure how to find them. The key is knowing which words to look for and which ones are not helpful.

• “100% wheat.” This phrase means that the only grain contained in the product is wheat. The food may not contain whole wheat.

• “Multigrain.” A word that means the product contains more than one kind of grain. The food may not contain whole grains, however.

• “Stone ground.” This term refers to grain that is coarsely ground and may contain the germ, but not the bran. Often, refined flour is the first ingredient, not whole grain flour.

• “Pumpernickel” is coarse, dark bread made with rye and wheat flours. In the United States, it usually does not contain mostly whole grain flours.

The Whole Grain Benefit

Read the rest

Karakteristik Remaja »

KARAKTERISTIK REMAJA

oleh : Melly Latifah (2008)

Periode remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang amat penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian individu.

Kebanyakan ahli memandang masa remaja harus dibagi dalam dua periode karena terdapat ciri-ciri perilaku yang cukup banyak berbeda dalam kedua (sub) periode tersebut. Pembagian ini biasanya menjadi: periode remaja awal (early adolescence), yaitu berkisar antara umur 13 sampai 17 tahun; dan periode remaja akhir, yaitu 17 sampai 18 tahun (atau umur dewasa menurut hukum yang berlaku di suatu negara).

Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari periode-periode perkembangan sebelumnya. Dalam periode ini apa yang diperoleh dalam masa-masa sebelumnya diuji dan dibuktikan sehingga dalam periode selanjutnya individu telah mempunyai suatu pola pribadi yang lebih mantap.

Pertumbuhan fisik dalam periode pubertas terus berlanjut sehingga mencapai kematangan pada akhir periode remaja. Masalah-masalah sehubungan dengan perkembangan fisik pada periode pubertas (malu, atau rendah diri, takut gemuk, pingin punya kumis dan lain-lain) masih berlanjut, tetapi akhirnya mereda (Irwanto, dkk., 1989).

Ciri-ciri perilaku yang menonjol pada usia-usia ini terutama terlihat pada perilaku sosial. Dalam masa-masa ini teman sebaya mempunyai arti yang amat penting. Mereka ikut dalam klub-klub, klik-klik atau geng-geng sebaya yang perilaku dan nilai-nilai kolektifnya sangat mempengaruhi perilaku serta nilai-nilai individu-individu yang menjadi anggotanya. Inilah proses dimana individu membentuk pola perilaku dan nilai-nilai baru yang pada gilirannya bisa menggantikan nilai-nilai serta pola perilaku yang dipelajarinya di rumah.

Remaja adalah seorang idealis, ia memandang dunianya seperti apa yang ia inginkan, bukan sebagaimana adanya. Ia suka mimpi-mimpi yang sering membuatnya marah, cepat tersinggung atau frustasi. Selain itu, oleh keluarga dan masyarakat ia dianggap sudah menginjak dewasa, sehingga diberi tanggung jawab layaknya seorang yang sudah dewasa. Ia mulai memperhatikan prestasi dalam segala hal, karena ini memberinya nilai tambah untuk kedudukan sosialnya di antara teman sebaya maupun orang-orang dewasa.

Periode remaja adalah periode pemantapan identitas diri. Pengertiannya akan “siapa aku” yang dipengaruhi oleh pandangan orang-orang sekitarnya serta pengalaman-pengalaman pribadinya akan menentukan pola perilakunya sebagai orang dewasa. Pemantapan identitas diri ini tidak selalu mulus, tetapi sering melalui proses yang panjang dan bergejolak. Oleh karena itu, banyak ahli menamakan periode ini sebagai masa-masa storm and stress.

Referensi :
Seifert, K.L. & Hoffnung, R.J. (1987). Child and Adolescent Development. Boston : Houghton Mifflin Co.

Perkembangan Kognitif Remaja »

PERKEMBANGAN KOGNITIF REMAJA

oleh : Melly Latifah (2008)

1. Tahap Perkembangan Kognitif Remaja

Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).

2. Kemampuan Kognitif Remaja

Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik (Carlson, Derry, Fouad, Jacobs, Krieg, & Peterson, 1999). Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus - bukan hanya satu - dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak (Keating, dalam Carlson, dkk., 1999). Menurut Nettle (2001), remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata - sebagaimana hal-hal yang nyata - untuk menyusun hipotesa atau dugaan.

3. Faktor Perkembangan Kognitif Remaja

Menurut pandangan teori pemrosesan informasi, kemampuan berfikir pada usia remaja disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan sumberdaya kognitif (cognitive resource). Peningkatan ini disebabkan oleh automaticity atau kecepatan pemrosesan (Case; Keating & MacLean; dalam Carlson, dkk. 1999); pengetahuan lintas bidang yang makin luas (Case, dalam Carlson, dkk. 1999); meningkatnya kemampuan dalam menggabungkan informasi abstrak dan menggunakan argumen-argumen logis (Moshman & Frank, dalam Carlson, dkk., 1999); serta makin banyaknya strategi yang dimiliki dalam mendapatkan dan menggunakan informasi (Carlson, dkk., 1999).

Walaupun cara berfikir kelompok remaja (usia 11 tahun ke atas) berbeda dengan anak usia 7 – 11 tahun, akan tetapi bila ditelaah lebih jauh, di antara para remaja sendiri sering ditemukan perbedaan (Seifert dan Hoffnung, 1987). Perbedaan tersebut, menururt Torgesen (dalam Collins, dkk., 2001), terjadi antara lain karena faktor penggunaan strategi kognitif yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Pertumbuhan Fisik & Kesehatan Remaja »

PERTUMBUHAN FISIK & KESEHATAN REMAJA

oleh : Melly Latifah (2008)

1. Definisi Remaja

Remaja didefinisikan sebagai tahap perkembangan transisi yang membawa individu dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik karena pubertas serta perubahan kognitif dan sosial. Menurut Seifert dan Hoffnung (1987), periode ini umumnya dimulai sekitar usia 12 tahun hingga akhir masa pertumbuhan fisik, yaitu sekitar usia 20 tahun.

2. Pandangan Teoritis tentang Remaja

Ada dua pandangan teoritis tentang remaja. Menurut pandangan teoritis pertama – yang dicetuskan oleh psikolog G. Stanley Hall – : adolescence is a time of “storm and stress “. Artinya, remaja adalah masa yang penuh dengan “badai dan tekanan jiwa”, yaitu masa di mana terjadi perubahan besar secara fisik, intelektual dan emosional pada seseorang yang menyebabkan kesedihan dan kebimbangan (konflik) pada yang bersangkutan, serta menimbulkan konflik dengan lingkungannya (Seifert & Hoffnung, 1987). Dalam hal ini, Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa perkembangan di masa remaja penuh dengan konflik. Keyakinan ini tercermin dari teori mereka tentang perkembangan manusia.
Read the rest