Operasional Kongkrit »
By Melly Latifah on Jun 19, 2009 in Child Development, kongkrit | 0 Comments
Anak usia sekolah oleh Piaget dikategorikan pada stadium operasional kongkrit (7-11 tahun). Stadium operasional kongkrit dapat digambarkan sebagai menjadinya positif ciri-ciri yang negatif pada stadium berpikir pra operasional. Cara berpikir anak yang operasional kongkrit kurang egosentris. Di tandai oleh desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu untuk memperhatikan lebih dari satu dimensi-dimensi ini satu sama lain (hal ini dapat dilihat dari kemampuan anak dalam stadium ini juga mengadakan konservasi). Anak sekarang juga memperhatikan aspek dinamisnya dalam perubahan situasi. Akhirnya ia juga sudah mampu untuk mengerti operasi logisnya reversibilitas (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).
Monks, Knoers dan Haditono (1992) mengatakan bahwa ada juga “kekurangannya” dalam cara berpikir yang operasional kongkrit. Hal ini sebelumnya sudah secara implisit ditunjukkan oleh istilah operasional kongkrit. Anak mampu untuk melakukan aktivitas logis tertentu (operasi) tetapi hanya dalam situasi yang kongkrit. Dengan kata lain bila anak dihadapkan dengan suatu masalah (misalnya masalah klasikasi) secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan kongkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.
Tetapi hal ini dapat dijelaskan bahwa tahun-tahun penghidupan pertama dan tahun-tahun sekolah pertama merupakan mata rantai yang penting dalam perkembangan inteligensi. Selanjutnya analisa semacam ini menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan pada periode ini justru sangat penting dan bahkan dapat terjadi kerusakan yang berat bila anak tidak memperoleh kesempatan perkembangan yang optimal. Sebaliknya hal ini tidak berarti bahwa perkembangan intelektual atau kognisi pada usia sekitar 12 tahun secara garis besar telah selesai dan hampir tidak dapat diubah lagi. (Monks, Knoers dan Haditono, 1992)
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Haditono di Indonesia ditemukan bahwa cara orang tua mendidik anak menyumbang pembentukkan motif prestasi anak dalam hubungan dengan tiga standar keunggulan tersebut. Ia menemukan bahwa stimulasi dari ibulah (kurang dari fihak ayah) yang diduga lebih berperan dalam pembentukkkan motif belajar ini.Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang membutuhkan untuk menggunakan pengertian.Psikolog Swiss yaitu Piaget telah banyak mempengaruhi psikologi perkembangan dalam hal perkembangan kognisi. Dia telah memberikan banyak pendapat serta dorongan dalam hal ini (bandingkan untuk berikutnya Ginsburg dan Oppper, 1969) (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).
Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk adaptasi dan kecenderungan untuk organisasi. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecenderungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungan guna menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Suatu contoh yang sederhana dalam bidang biologis adalah makan. Bila orang maan sesuatu maka pencernaan makanannnya tidak perlu berubah. Apa yang berubah adalah makanannya yaitu adalah faktor lingkungan (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).
Bagi situasi pelajaran prinsip asimilasi merupakan hal yang sangat penting. Menurut Piaget maka setiap anak selalu ada dalam salh satu stadium perkembangan. Stadium ini sebagian besar menentukan untuk sebagian besar cara anak untuk menginterpretasi suatu tugas verbal misalnya : anak umur 4 tahun dan umur 10 tahun dapat diberikan suatu tugas verbal yang identik, tetapi harus disadari bahwa anak hanya akan mengerti tugas tadi sepanjang stuktur kognitif, yaitu stadium perkembangan kognitifnya memungkinkan untuk hal itu. Anak mengasimilasi tugas tadi dengan struktur kognitifnya: ia mengerti tugasnya sepanjang ia mampu untuk mengertinya (Monks, Knoers dan Haditono, 1992)
Menurut Monks, Knoers dan Haditono (1992)Akomodasi adalah kecenderungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri dengan keliling. Suatu contoh dalam bidang biologi dapat dikemukakan lagi mengenai makanan. Bila organisme terpaksa untuk makan makanan yang asing, maka sistem fisiologisnya seringkali harus menyesuaikan diri dengan faktor lingkungan yang berubah itu. Juga dalam situasi sekolah akomodsi memegang peranan penting; anak harus bersedia untuk selalu memperoleh pengetahuan baru guna dapat mengatasi masalah-masalah baru
Kecenderungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-proses sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren. Kecenderungan ini juga dapat ditemukan dalam bidang biologis dan psikologis. Contoh yang paling mudah dalam bidang biologis adalah berfungsinya sistem fisiologis sendiri sebagai kesatuan yang terintegrasi. Bila ada gangguan dalam integrasinya hal itu berarti penyakit.Hubungan antara adaptasi dan organisasi juga dua proses ini bersifat komplementer. Bila suatu organisme mengadakan organisme aktivitasnya, maka ia mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada pada situasi baru (Monks, Knoers dan Haditono, 1992).
Secara empiris Cravioto dan kawan-kawan (1972) di Meksiko, Christiansen dan kawaan-kawan (1974) di Kolumbia, Klein dan kawan-kawan (1974) di Guatemala, Grantham-McGregor dan kawan-kawan (1979) di India Barat, Chavez dan Martinez (1982) di meksiko, Landers (1983) di India Barat serta Simpson (1984) di Costa Rica mendapatkan bahwa keadaan gizi atau pertumbuhan anak memberikan kontribusi independen terhadap tingkat perkembangan secara umum. Setidak-tidaknya, temuan empiris tersebut di atas dapat di urai menjadi 2 jalur penjelasan, ialah pertama hipotesis jumlah sel/ukuran sel (cell number/cell size hypothesis), dan yang kedua Teori Isolasi Fungsional (,functional isolation theory) (Satoto, 1990).
Chavesz dan Martinez (1981) menyatakan bahwa sebenarnya pemenuhan energi dan zat-zat gizi esensial untuk otak mendapat prioritas yang sangat tinggi, dibandingkan dengan organ-organ tubuh lain, sehingga sampai dengan terjadinya pengosongan cadangan zat-zat gizi tersebut artinya keadaan gizi kurang yang sangat parah, anatomi dan faal otak tidak atau belum terganggu, sepanjang keseluruhan fase-fase pertumbuhan otak (Satoto, 1990).
Menurut Piaget perkembangan kognitif merupakan hasil interaksi antara pematangan organisme dan pengaruh lingkungan. Dalam hal ini, organisme dipandang aktif mengadakan hubungan dengan lingkungan yang berupa proses interaksis yang dinamis (Gunarsa, 1990).
Menurut Gunarsa (1990) proses kognisi merupakan fungsi mental yang berhubungan dengan mengetahui yang meliputi aspek persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran dan pemecahan persoalan. Karena bahasa merupakan perwujudan fungsi-fungsi kognitif, maka dalam psikologi kognitif, bahasa menjadi salah satu objek materialnya.
Piaget mengemukakan pula bahwa setiap organisme yang mau mengadakan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungannnya, harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium) yaitu antara aktivitas organisme terhadap lingkungan dan antara lingkungan terhadap organisme. Agar terjadi ekuilibrasi antara dirinya dengan lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sama dan komplementer (Gunarsa, 1990).
Ekuilibrasi terjadi dalam perkembangan dan mempunyai dasar biologis untuk penyesuaian diri, serta menjadi dasar bagi perkembangan kognitif. Dalam keadaan sebenarnya ekuilibrasi ini praktis tidak pernah tercapai dan perkembangan kognitif juga tidak akan berhenti (Gunarsa, 1990).
Hetherington dan Parke (1986) mengatakan bahwa faktor-faktor biologik, lingkungan, pengalaman, sosial, emosi, dan motivasi berperan dalam perkembangan kognitif.




